Deal or No Deal Summary
DEAL OR NO DEAL
6 Maret 2010
Yurika Agustina
Ruang Anggrek, Wisma Indocement, Sudirman, Jakarta
Hari ini tema pertama kita dalam rangkaian True Love Celebration adalah “Deal or No Deal”. Semua kudunya sudah pernah nonton show ini, yang biasanya bicara tentang uang, tapi kali ini kita akan bicara sesuatu yang lebih dalam daripada itu. Pertama-tama kita perlu menjawab pertanyaan yang perlu direnungkan bersama sore ini: “ngapain gue di sini?”, “kenapa tema ini menarik buat gue?”.
Setiap kita punya alasan yang berbeda-beda kenapa kita hadir di tempat ini, bisa karena pengalaman pribadi, bisa karena teman, atau sahabat. Pertanyaan lainnya adalah kenapa True Love Celebration ini diadakan, kenapa dari bulan ke bulan akan dibicarakan hal yang itu-itu juga. Selama 9 bulan akan dikupas, dilihat dari berbagai segi dan arah, yang semuanya akan berbicara seputar seks; sehingga dari bulan ke bulan teman-teman akan diajak bertanya terus pada diri kita sendiri. Karena memang kita perlu mempertanyakan apa yang sudah kita lakukan dan bagaimana seharusnya kita lakukan di masa depan sehingga kita tahu persis yang mana yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.
Tubuh dan Hedonisme
Suatu hari saya sedang mempersiapkan sebuah bahan power point dan mencari di google images gambar-gambar yang cocok. Cukup terkejut karena dalam salah satu gambar ditemukan gambar tentang “Hedonism”. Yang mengejutkan bukanlah foto bikininya Paris Hilton, melainkan tulisan di bawahnya : “If Jesus died for your sins, why not enjoy them all? - Kalau Yesus sudah mati buat dosa-dosamu, kenapa nggak nikmati saja semuanya”. Kan entar Yesus yang tanggung. Seumpama kita pakai credit cardnya sampai puas, lalu yang bayar tagihannya adalah Yesus. Kan darahNya sudah tercurah di atas kayu salib. Kalau mereka buat acara seperti ini, tema acaranya bukanlah “deal or no deal”, tapi “if it feels good, just do it”.
Dunia orang muda saat ini sedang berada dalam situasi ini. Kita akan menemukan hedonisme dalam berbagai bentuk. Sehingga tak mengherankan bila timbul anggapan yang mengatakan “lakukan saja yang kita suka , nanti tinggal ngaku dosa, kan pasti diampuni? Bukankah daging itu lemah, walaupun roh itu kuat?” Media, iklan dan entertainment mengarah pada gaya hidup hedonisme. Terdorong untuk mengejar kenikmatan sehingga kita diajak untuk bertanya dan merenungkannya kembali.
Hedonisme yang ada di sekeliling kita ini, membawa kita berpusat atau terobsesi pada satu hal, yaitu tubuh. Dan yang menarik adalah tubuh ini justru direncanakan oleh Allah sendiri. Allah yang punya ide untuk memberikan pada kita sebuah tubuh ketika Ia menciptakan Adam dan Hawa. Allah-lah yang memberikan kita tubuh ini dengan segala gejolak dan keinginannya. Namun hedonisme membuat tubuh seakan-akan menjadi pusat. Padahal kita lihat rencana Allah itu sungguh bagus ketika Ia menciptakan Adam dan Hawa.
Allah berkata baiklah kita menjadikan manusia menurut rupa dan gambar kita. Lalu dikatakan Allah membentuk debu atau tanah dan memberikan kita tubuh dengan segala gejolak dan dorongannya, seperti lapar, rasa haus dan juga dorongan seks. Keinginan-keinginan dalam tubuh tidaklah salah. Dorongan seksual tidaklah salah. Seks tidak jahat. Seks tidaklah kotor. Namun lingkup keadaan kita yang sudah dipengaruhi oleh hedonisme mengakibatkan kita memiliki cermin yang berbeda dengan cermin-nya Tuhan dalam memandang tubuh. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia memberikan kita tubuh untuk mengungkapkan sesuatu. Karena ketika Allah do something, maka pasti ada tujuannya. Ketika Allah meng-create tubuh laki-laki dan perempuan tentu ada maksud dan tujuannya. Tubuh dibentuk atau diciptakan Allah dengan tujuan untuk mengungkapkan sebuah panggilan dengan untuk mencintai. Bahkan sampai hari ini rencana Allah menciptakan tubuh tak pernah berubah: yaitu hanya untuk mencintai dan bukan untuk memanfaatkan tubuh atau mengeksploitasi tubuh. Kitab Kejadian tertulis, “Baiklah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…”
Tapi kalau kita kembali lagi, tubuh kita yang sekarang dipengaruhi oleh hedonisme, membuat rencana Allah mula-mula dalam menciptakan tubuh menjadi morat marit. Sehingga sekarang tubuh dipakai untuk saling memanfaatkan dan untuk saling mengeksploitasi. Salah satu bentuknya adalah pornografi. Kita bisa menemukannya dimana-mana. Banyak orang berkata bahwa pornografi “it’s no harm”. Itu bukan masalah karena tidak merugikan orang lain, ”saya tidak berbuat jahat dengan melihat pornografi”. Ada orang yang fight selama 20 tahun dengan pornografi, sampai dia berpikir kalau punya istri maka masalah ini selesai, ternyata tidak, dia sampai bilang tolong beritahu saya bagaimana bisa keluar dari problem ini.
Dengan ini kita perlu sungguh-sungguh bertanya apakah pornografi sungguh tak berbahaya untuk emosi kita? Apakah tak berbahaya untuk fisik kita? Para ahli otak mengatakan bahwa pemulihan otak yang kecanduan pornografi jauh lebih lama daripada mereka yang kecanduan drugs. Mereka mengatakan kondisi otak pencandu pornografi itu mengkerut atau mengecil. Di sini kita melihat bahwa rencana Allah menciptakan tubuh adalah untuk mencintai dan bukan mengekploitasi tubuh sehingga bila kita mengeksploitasinya maka manusia sendirilah yang akan dirugikan olehnya. Ada sharing seorang anak SMP yang makan telur 20 butir setiap hari supaya bisa masturbasi terus sambil nonton bokep. Bulan depan slogan ’it’s no harm’ ini akan dikupas tuntas dan kita akan melihat bagaimana solusinya untuk hal itu.
Sebuah pertanyaan lainnya, ”Apa persamaan antara anak remaja dan industri pornografi?”. Jawabannya adalah komputernya. Industri pornografi di internet ada jutaan jumlahnya dan setiap harinya masih terus diproduksi. Kita ada dalam dunia yang seperti ini. Di sekeliling kita, dimanapun.
Ada satu produk yang baru keluar, ini bukan judul film terbaru tapi ini adalah merk kondom terbaru, baru diproduksi di Swiss dan sebentar lagi di Inggris: kondom mini untuk anak 12 tahun. Bisa dengan cepat masuk ke Indonesia apalagi kita ketahui bahwa beberapa waktu lalu diberitakan anak-anak ABG ditangkap di warnet karena membuka situs-situs pornografi.
Distorsi Cinta
Suatu ketika diadakan sebuah survey pada orang muda dengan sebuah pertanyaan, ”Apa artinya cinta ?”. Hasil jawaban mereka bermacam-macam. Bahkan banyak jawaban mereka tentang arti cinta yang punya pengertian jauh dari arti sesungguhnya. Bukan arti dari apa yang dimaksudkan Tuhan. Jawaban mereka antara lain :
1. Cinta itu adalah feeling
Ketika perasaan yang berbicara, orang berpikir itulah cinta. Ketika lupa daratan dan ingatnya lautan, maka itulah cinta. Karena love is about feeling, ketika feeling sudah tak ada lalu mulailah orang menjadi bingung dan bertanya-tanya, ini cinta atau bukan.
2. Cinta itu adalah pleasure
Sehingga hanya dengan memberikan bunga maka sudah bisa mendapatkan tubuh atau dengan uang bisa mendapatkan tubuh.
3. Cinta itu sama dengan seks
Oleh karena saya cinta dia, maka ungkapan cinta saya harus dalam hubungan seks. Seks adalah sarana pembuktian cinta. Karena punya pandangan bahwa teman-teman saya juga melakukan hal yang sama, orang-orang yang saya kenal juga melakukannya. Kalo saya cinta sama dia maka it’s ok buat having sex.
Ada juga yang bilang love is nothing, tapi ada juga yang bilang love is everything, tapi ada juga yang bilang love is pain, mungkin karena pernah atau sedang patah hati. Ada yang bilang love is mystery, kita tak tahu, tahunya nanti di ujung, tapi ada juga yang bilang love is mistake, cinta itu sebuah kesalahan. Ada yang bilang love is affection makanya harus sering pegang-pegang, cium, tapi ada juga yang bilang love is cruel, cinta itu kejam, ada juga yang bilang love is happiness, tapi lalu juga ada yang bilang , love is weakness, anggapannya jangan pernah mencintai karena nanti kamu akan disakiti.
Arti Cinta yang Sejati
Sekalipun Paus Yohanes Paulus II ketika itu tinggal di Vatikan namun Beliau memperhatikan kehidupan orang muda dan merenungkan apa yang jadi problem bagi orang muda. Itu sudah dimulai Beliau ketika masih menjadi Kardinal di Polandia. Hasil menerima banyak konseling dan pengakuan dosa, maka akhirnya Beliau menulis sebuah buku, yang berjudul ”Love and Responsibility”.
Beliau mengatakan ”the greater the feeling of responsibility for the person” , semakin kita merasa bertanggung jawab atas orang itu, ”the more true love there is” , semakin ada cinta sejati di sana. Tidak ada cinta tanpa tanggung jawab. Setelah cinta muncul, maka tanggung jawab akan menemaninya. Kalau tak ada tanggung jawab , maka tak ada cinta yang sejati.
Karena itu juga, maka saat Beliau sudah menjadi Paus, dalam setiap audiensi Beliau menyampaikan 129 ceramah khusus yang intinya membahas soal relasi pria dan wanita, soal seks dan cinta. Rangkaian ceramah atau katekese Beliau tersebut kemudian dikenal dengan istilah ”Theology of the Body”. Beliau menyampaikan ceramahnya itu antara tahun 1979-1984. Yang intinya Beliau ingin supaya putra dan putri Gereja tahu how to be a real man and a real woman.
Dalam sebuah ungkapannya, Beliau menjelaskan mengenai arti sejati dari cinta:
“There is no place for selfishness and no place for fear.”
Banyak anak muda yang having sex sama pacarnya karena takut diputuskan, karena diancam “kalau nggak sama lu, gue bisa cari cewek lain”. Tapi Yohanes Paulus II mengatakan dalam cinta , no place for selfishness and no place for fear.
“Do not be afraid, then, when love makes demands,
Do not be afraid, when love requires sacrifice.”
Berkali-kali, Beliau menggunakan kalimat : “Do not be afraid”.
“Real love is demanding.
I would fail in my mission if I did not tell you so.
Love demands a PERSONAL COMMITMENT to the will of God.”
Tentu saja hasil permenungan Beliau tersebut didasarkan atas permenungan tentang personal commitment dari seorang pribadi. Beliau belajar dari satu pribadi yaitu Yesus. Beliau melihat dan merenungkan bagaimana cara Yesus mencintai gerejaNya dan memperlihatkan apakah arti dari cinta sejati.
Ketika Yesus memberikan arti cinta, maka dia bukan cuma mengatakan namun sekaligus menunjukkan arti cinta sejati itu. Artinya cinta adalah DECISION. Keputusan. Ketika saya mencintai, maka saya membuat keputusan untuk memberi bukan mengambil, bukan merampas apalagi memperkosa. Keputusan untuk berkorban seperti pada saat Yesus berkata: ketika seorang mencintai sahabat-sahabatnya dan rela mati untuk sahabat-sahatabnya. Cinta adalah murni bukan nafsu. Cinta itu melayani, memberi yang terbaik dan cinta itu adalah setia. Ini adalah kebenarannya. Ini adalah arti dari cinta yang sejati.
Chastity and True Happiness
Namun seiring dengan itu juga, muncul pemikiran bahwa kalau cinta itu adalah memberi, setia dan berkorban maka rasanya menderita sekali. Tak bisa TTM, tak bisa selingkuh. Bukankah kita ini masih muda. Dengan slogan terkenalnya: “waktu muda hura-hura, tua kaya raya dan kalo mati masuk surga”?
Sehingga pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan happiness?
Paus Yohanes Paulus II mengatakan :
“ It is Jesus that you seek when you dream of happiness.”
Ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan dan mencarinya di tempat-tempat yang salah atau pada orang yang salah. Kita mau memberikan tubuh kita karena berpikir akan makin dicintai atau akan makin bahagia, sehingga kita berikan semuanya, maka Paus Yohanes Paulus II berkata bahwa saat itulah sebenarnya yang kita cari adalah Yesus sendiri.
“ He is waiting for you when nothing else you find satisfies you.”
Ketika segala kenikmatan dunia dan seks tidak lagi bisa memuaskanmu, maka Yesus menunggumu untuk memberikan cinta dan kebahagiaan yang sejati.
Kemudian Paus Yohanes Paulus II menawarkan sebuah perwujudan cinta sejati yang membebaskan, memulihkan dan membawa kebahagiaan. Yaitu yang dikenal dengan sebutan “Chastity”. Mengenai Chastity, Beliau berkata:
“Chastity is a difficult, long term matter. But at the same time, chastity is the sure way to happiness.”
Salah satu tokoh icon orang muda dalam World Youth Day adalah Blessed Pier Giorgio Frassati. Beliau mengungkapkan demikian :
“Because true happiness, young people, does not consist in the pleasures of the world and in earthly things. But in PEACE OF CONSCIENCE which we can have only if we are PURE in HEART and in MIND.”
Kejahatan dari pornografi adalah membuat kita tidak pure dalam hati. Akibat dari hati yang tidak murni dan pikiran yang kotor terus adalah tidak adanya kedamaian hati nurani. Maka dalam hati nurani yang tidak damai, tentu sulit untuk menemukan true happiness dalam hidup kita.
Sebuah riset di Amerika meneliti 10.000 wanita yang sejak usia dini sudah melakukan hubungan seksual. Hasil dari survey tersebut membuktikan bahwa para wanita tersebut pernah mengalami masalah-masalah sebagai berikut:
Banyak yang mengalami kehamilan di luar nikah
Banyak yang menjadi single motherhood
Terkena berbagai penyakit kelamin
Berganti-ganti pasangan seksual
Berkali-kali putus cinta
Melakukan aborsi
Mengalami kemiskinan
Mudah depresi. Survey di Amerika juga membuktikan bahwa anak remaja laki-laki atau perempuan yang sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah lebih banyak yang mudah depresi daripada anak remaja yang belum melakukan hubungan seksual.
Perceraian adalah ratingnya tinggi setelah mereka masuk dalam pernikahan.
Oleh karena itu kembali Yohanes Paulus II menyerukan bahwa hanya cowok dan cewek yang menjaga kemurnian seksualnyalah yang mampu akan cinta yang sejati. Ketika seseorang mampu mencintai dengan sejati maka dia akan mendapatkan kedamaian dan ujung-ujungnya dia memperoleh the true happiness.
Mother Teresa mengungkapkan: “the most precious gift you can give to your spouse on your wedding day” – bukan condominium, bukan bunga bank tapi – “is the gift of virginity.”
Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah kehilangan keperawanan atau keperjakaannya? Tentu selalu ada harapan di dalam Tuhan, karena :
“Chastity is not about your past. It’s a DECISION for your future.”
Sekarang pilihan atau keputusannya ada di tangan kita: apakah saya mau mengambil keputusan untuk itu atau tidak ? Gereja sudah memberikan solusi bagi kita , tinggal apakah saya mau mengambil keputusan ini. Sehingga pertanyaannya “deal or no deal?” ini menjadi berlaku untuk kita.
Sekarang kita akan bermain kuis sebentar. Dimana, kita akan memilih kata “Deal” untuk cinta, untuk mencintai seperti yang Tuhan mau untuk mencintai atau “No Deal” untuk lust, pada nafsu yang artinya bukan memberi tapi mengambil, bukan mencintai tapi memanfaatkan, inginnya menerima kenikmatan atau mengambil kenikmatan.
GAME deal or no deal: deal – love, no deal – lust.
Kalau lihat cewek cakep. Langsung ngebayangin lagi hubungan seks sama dia. “Deal or no deal?” Jawabannya adalah “No deal! It’s lust.”
Kalau selingkuh sama cewek atau cowok lain? “No Deal.”
Kalau berpikir: “Yah gue pacaran saja sama dia, tapi belum tentu bakalan married sama dia sih”? “No deal.”
Kasih batasan-batasan fisik saat berpacaran? ”Deal.”
Nggak pake baju seksi-seksi buat menarik perhatian dia? ”Deal.”
Lihat pornografi? ”No deal.”
Bersedia melakukan hubungan seks karena takut diputusin? ”No deal.”
Cerita ke temen gimana hubungan seksual sama pacar kemarin malam? ”No deal.”
by True Love
Hii...para cew ...pinter-pinter ar jaga diri jangan terpancing menjadi lengah melakukan hal- hal yang tidak pantas....harus menjadi pengontrol untuk pasangannya
BalasHapushii...para cow....jadilah lebih bijak jangan hanya terbawa oleh nafsu ..semuanya akan sia-sia dan hampa ,jagalah pasangan kalian karena dia juga akan jadi milikmu nanti
cia yoooo